Misteri Kamar Mandi

Pagi-pagi dikejutkan laporan santri yang katanya melihat sebuah sosok hitam besar di belakang komplek pondok putri. Seorang santri menangis kejer dan pamit pulang menenangkan diri.

Keluhan ini sebenarnya sudah beberapa kali disampaikan oleh santri putri.

Kukira mereka hanya berhalusinasi saja. Ternyata ini sudah laporan yang kesekian kalinya.

Meskipun satu minggu ini sudah melibatkan pengurus putra ikut berjaga, ternyata hasilnya nihil. Tak menemukan apa-apa.

Bahkan ketika Ayu menjerit ketakutan, merekapun tak dengar apa-apa.

***
Jam 21.00 alarm kentengan besi itu kubunyikan agar para santri baik putri dan putra segera mengakhiri aktivitasnya. Masuk ke komplek masing-masing.

Ku absen pengurus yang berjaga malam ini.

"Danar, Rojul, Faqih dan Memed."

"Siap, Neng!" Ucap mereka hampir bersamaan.

"Kalian takut?"

"Mboten, Neng! Tapi merinding." Danar menimpali.

Aku menahan tawa. "Nek wedi, ben diganti lainnya. Piye, Nar?"

"Mboten, Neng. Kulo siap!"timpalnya lagi.

Mereka siap berjaga dan ku pinta mereka untuk memperketat keamanan

***
Sepasang mata melihat keempat pengurus itu melintas. Mengarahkan lampu sorot mereka keberbagai arah. Jam berdentang lantang dengan suara khasnya 12 kali. Itu artinya sudah tengah malam.

Terdengar salah seorang dari mereka berkata lantang, "Sudah aman, ayo kembali. Nggak ada apa-apa."

Suara berat itu sepertinya milik Danar, sepasang mata tadi mengenalinya karena sering bercengkrama dengannya.

Akhirnya mereka memutuskan kembali ke Masjid. Tidak berputar lagi ke pondok putri.

***
"Kepada ananda Danar dan Syakila harap datang ke ndalem sekarang juga."

Informasi dari mikrofon kantor pengurus menggema ke seluruh penjuru pondok putri dan putra.

Membuat seluruh yang mendengarnya bertanya-tanya.
Setengah jam kemudian mereka datang. Kulihat wajah mereka berdua tegang.

"Mau nikah di sini ta, Kang? Tak nikahkan. Aku sudah telpon orang tuamu sama orangtuanya Syakila, mereka perjalanan ke sini," kata Gus Wafiq, kakakku.

"Wonten nopo nggeh, Gus?" Tanya Danar.

"Sampean gelem nggak nek tak nikahkan sama Syakila?"

"Mboten, Gus. Kulo dereng siap," papar Danar.

"Lho mbak, kang Danar sing mbok cintai nggak gelem nikah karo sampean, sampean dipermainkan ini. Mau saja kamu dipeluk, digombali, dicium. Sekarang dia nggak mau nikah sama kamu."

Aku melihat air mata menetes membasahi gamis marun yang dia pakai. Syakila semakin menunduk, pundaknya bergoyang seakan menahan suara isak tangis.

"Maksud kulo mboten ngoten, Gus. Nggeh purun nikah tapi mboten sakniki," ralat Danar lagi.

"Kamu tau to kang, mbak aturan pondok ini. Kalau ketemuan apalagi sampek pegang-pegangan yang bukan mahram resikonya apa?"

Mereka menunduk semakin dalam, tak ada bantahan lagi.

***
Dua hari sebelumnya......

Mas Wafiq kakakku tak sabar dan harus turun langsung. Ingin tahu sebenarnya yang terjadi. Tanpa memberitahu siapa-siapa, setiap jam 22.30 dia sudah berada di jemuran pondok putri.

Dia, memakai jaket capucon hitam duduk di dampar kayu yang biasa dipake santri putri petan.

Dampar itu diseretnya agak ke belakang.

Matanya terbelalak ketika sesosok lelaki mengendap-endap di belakang komplek putri. Ingin menegurnya, ternyata tak lama seorang perempuan datang. Diurungkanlah niat menegur, dia memutuskan memantau dengan seksama apa gerangan yang mereka berdua lakukan.

Mereka duduk di batu yang setiap harinya dibuat para santri putri mengantri kamar mandi. Duduk berdua bersebelahan, berpelukan sejenak dan tak bisa mendengar obrolan mereka karena mereka berbisik-bisik.

Mas Wafiq pun tak lantas menegurnya karena tak ada bukti, tak membawa kamera maupun hp.

***
Satu hari sebelum pemanggilan....

Mas Wafiq siap dengan kamera, menunggu mereka berdua muncul dan memfotonya.

"Ya robbi, begitukah kalian berdua menakuti temen kalian?" Gumam dia dalam hati.

Ketika itu, ada santri putri yang hendak ke kamar mandi, karena takut ketahuan mereka membuat gumpalan bulat dari handuk dan menaruhnya di atas sisa pohon yang sudah ditebang, lalu mensorotnya dengan senter, mengarahkannya ke dinding kamar mandi sehingga terlihat seperti sosok besar hitam.

Mas Wafiq melihat santri perempuan tadi ketakutan, menjerit histeris dan lari terbirit-birit kembali ke komplek pondok putri.

Perhatian mas Wafiq kembali ke dua orang itu. Terlihat mereka berpencar. Yang satu ke arah pondok putra, satunya lagi hendak kembali pula ke komplek pondok putri.

"Mbak, tunggu, berhenti. Namamu siapa? Dan laki-laki tadi siapa?"

***