Naskah Drama Parodi dalam acara bedah novel hati suhita, 16 juni 2019. By wiemsuci
Setelah 5 tahun berlalu, sejak pagi pertama itu, Gus Birru mengajak Alina berlibur ke Lamongan.
"Lin, ayo tak jak nang Lamongan. Mumpung libur panjang hari raya. Ben kamu nggak jenuh sama rutinitas pesantren. Nanti aku tak bilang umik. Kita berdua saja. Tole titip umik 2 hari.”
“Memangnya di Lamongan ada apanya, Mas? Soto lamongan banyak disini. Ngapain kita ke Lamongan?”
Tanya Alina.
“Di Lamongan ada WBL, ada Gua Maharani. Dan tidak jauh dari situ, ada makam Sunan Drajat. Kita bisa nyekar juga disana. Gimana?"
Makanan khasnya juga banyak, ada tahu campur, sambal boranan tapi nang kutone.”
"Umik sampun sepuh, Mas. Apalagi tole suka lari-lari, umik nanti nggak sanggup mengejarnya."
Obrolan itu tak sengaja terdengar oleh umik.
"Berangkat saja, biar tole umik yang jaga. Tole kan sering tidur sama umik. Bulan madu lagi sana." Goda umik.
Gus Birru mendekat ke ummi, mencium tangannya dan memeluknya.
"Makasih umik."
****
Tiba saatnya bersiap-siap. Gus Birru memeriksa koper berisi pakaian ganti yang sudah disiapkan istrinya. Mata Gus Birru tertuju pada buku yang terselip di penutup koper. Diambilnya buku itu, dahinya berkerut seperti mencoba mengingat sesuatu. Lembar demi lembar dibuka dan di lembar tengah ada satu kertas foto. Gus Birru mengambilnya dan, ternyata itu adalah foto Rengganis.
“Reeeeeee……………….
(Backsong hanya rindu)
Dia terdiam cukup lama sambil memandangi foto yang dia pegang. Pikiran melayang ke 5 tahun silam. Buku itu pemberian Rengganis. Entah kapan dia memberinya, Gus Birru tak mengingatnya. Yang jelas foto itu, foto bersama team ketika meeting di Bandung.
Terasa seperti ada sesuatu. Ini kah rindu?
****
Alina keluar dari kamar mandi dengan handuk yang masih membalut keseluruhan rambutnya. Dia mendatangi Gus Birru yang duduk diam termangu.
"Ada apa, Mas?"
"Lin, kenapa kamu membawa buku ini ke dalam koper?" Tanya Gus Birru.
Alina terlihat bingung.
"Anu, buku itu nggak pernah pindah dari koper itu. Saya melihatnya terakhir ketika Mas Birru datang dari Bandung."
"Lin, maafkan, Mas!", suara gus Birru dalam hati. (puisi dan backsong)
Melihat Alina sepolos itu dari kamar mandi, ingin rasanya memeluknya tapi apa daya, Gus Birru berjanji pada dirinya sendiri tak akan menyentuh Alina jika mengingat perempuan lain.
Disingkirkannya photo itu. Ditaruh di dalam rak sepatu.
Dengan mata berkaca-kaca, diambilnya lagi photo itu. Kemudian dimasukkan di kantong celananya. Tentu tanpa sepengetahuan Alina.
*****
* Armsterdam, Belanda *
Di negeri nan jauh di sana, seseorang sedang sibuk mempersiapkan kepulangannya ke Indonesia. Ditempat dia bekerja mengizinkannya cuti selama dua minggu untuk lebaran di kampung halaman.
Setelah dua tahun menimba ilmu di Armsterdam, dia tidak pulang. Dia memilih untuk mencari kerja di negeri kincir angin. Baru di tahun ini dia mendapat kesempatan untuk bertemu sanak keluarganya di kampung.
Terbayang dia saat bermain dengan teman-teman masa kecilnya, ketika jalan-jalan ke wahana hiburan yang tidak jauh dari kampungnya.
“Aku ingin ke wahana itu lagi. Kangen. Setelah bertahun-tahun tidak kesana, penampakannya sekarang seperti apa ya? “, Rengganis senyum senyum sendiri.
****
* WBL, Lamongan *
Liburan hari raya. Tempat ini tidak pernah sepi. Ribuan wisatawan berkunjung ke tempat itu untuk bersantai bersama keluarga. Termasuk Alina dan Gus Birru.
“Asyik ya. Rame sekali disini.”
“Iya, Mas. Baru sekali aku ke sini. Wahananya banyak sekali. Itu rumah kaca, Mas. Ayo masuk kesana.”
“Ayo ae wes,” kata gus Birru.
Antrean lumayan panjang untuk bisa masuk wahana rumah kaca. Didepan Gus Birru, ada sekelompok wanita yang juga ikut antri sambil bercanda ria. Namun, ada seorang wanita yang menghentikan tawanya saat menoleh ke belakang dan melihat Gus Birru disana.
Kakinya terasa kaku, mulutnya terasa kilu. Terbayang beberapa tahun lalu.
Tak sadar, teman-temannya sudah mendahului. Dia masih berdiri, tidak bergerak sama sekali. Hingga saatnya…
“Mbak, silahkan duluan masuk,” sapa Gus Birru.
“Eh… anu…” Si Wanita gelagapan, sambil sesekali menatap wajah yang sangat tidak asing baginya.
Tapi mengapa dia -Gus Birru- seperti tidak mengenalnya?
“Oke, saya masuk duluan”, kata Si Wanita itu.
Di dalam wahana rumah kaca, di belokan pertama, wanita itu menatap bayang dirinya di cermin. Dia kaget. Dia baru sadar ternyata tubuhnya sudah banyak berubah.
Tersimpuh, dia sesengukan dan berkata lirih, “ini semua karenamu Gus Birru. Tubuhku semakin melar seperti ini, itu semua karenamu”.
Gus Birru yang mendengar suara lirih itu, merasa terusik, “apakah saya mengenalmu, Bu?”
Dengan nada sengak, Si wanita itu menjawab, “Ibu… Ibu… aku bukan ibumu.”
Sambil menoleh, wanita itu meneruskan kata-katanya, “Mas, coba pandangi aku sebentar saja. Tidakkah kau mengenaliku? Aku yakin, photoku masih ada dalam dompetmu mas.”
{lagu SLANK – “Photoku di dalam dompetmu” di puter}
Sekejab, Gus Birru teringat photo yang ia simpan di kantong celananya. Diambilnya, dilihatnya, dibandingkan dengan wanita yang ada di hadapannya.
“Ah, tidak mungkin.”
Dilihatnya lagi photo, dibandingkan lagi.
“Jelas tidak mungkin.”
Secepat kilat, Gus Birru menggandeng tangan istrinya untuk segera pergi berlalu.
Ditempatnya, wanita itu berteriak, “GUS BIRRUUUUU, AKU BENCI KAMUUUU!”
*END*
No comments:
Post a Comment