Teman Sejawat


Teman Sejawat
By wiemsuci

Telepon kotak gagang putih di ruang tengah berdering. Jam dinding menunjukkan jam 8 malam. Aku yang lebih senang tidur di ruang tengah sekaligus ruang keluarga yang berisi televisi dan kasur lipat saja, sesegera mungkin kusibakkan selimut yang membalut tubuhku dan berjalan cepat menuju tempat telepon berdering. Aku angkat telepon gagang itu. Si penelepon diam dan akupun diam. 10 menit hanya saling diam. Tak biarkan, lha yang telpon sana, tiba-tiba nutup nggak sopan donk.

Suara diseberang terdengar berat.

"Ning, gimana kabarnya?"

"Oh, laki-laki," gumamku dalam hati.

"Niki sinten?" Tanyaku.

Awal aku kuliah, setelah ospek usai banyak sekali nomer baru sms dan telepon silih berganti. Ada yang hanya diam membisu, seakan senang dengan hanya mendengar omelanku. Omelan kesal karena di seberang sana tak menyahut. Kadang hanya  terdengar suara tawa cekikikan. Telepon dengan private number berkali-kali bahkan sms tanpa namapun berpuluh-puluh kali. Aku tak pernah membalas bahkan langsung kudelete.

Suara seberang menghela nafas panjang.
"Aku, Mahmed Daniswara Al-Fatih, jawabnya sedikit kesal karena aku tak mengenali suaranya.

Bagaimana aku bisa mengenali suaranya, aku bicara tatap muka saja bisa dihitung dengan jari.  Apalagi suara nyata dan telepon kadang berbeda. Suara merdu di nyata, ternyata jika didengarkan ditelepon seperti suara microphone rusak. Bahkan sebaliknya.

"Oh, mas Danis. Ada apa, Mas?"

Ketika bertemu dengannya dulu dia terhenyak ketika aku memanggilnya, Mas. Bukan Gus, seperti santri lainnya. Aku salah satu siswi pendatang yang mengikuti acara pertukaran pelajar kota di desa itu. Aku di sana kurang lebih 3 bulan. Dia, kakak tingkatku, sekaligus putra Nyai yang punya yayasan sekolah.

"Kenapa dia menelpon malam-malam?"..

Bersambung...

No comments:

Post a Comment