Teman sejawat 2

"Kenapa dia menelepon malam-malam?" Tanyaku dalam hati.

Ini pertama kalinya dia menelepon. Sebelumnya hanya bertukar kabar via sms, membahas isu-isu terkini dan dikaitkan dengan dasar-dasar agama. Dia tau kalau aku suka menelaah kitab kuning. Dia malah lebih jago. Analisisnya tentang   pelaku bom Bali membuat diriku terhenyak. Anak SMA yang tergerak untuk membedah sebuah kasus dan menuliskannya dalam sebuah artikel. Aku, hanya suka membaca kitab kuning saja tanpa mau mengkaitkan dengan isu-isu terkini.

"Gimana kabarnya?"

"Halah, barusan smsan wes tanya kabar, sekarang telepon tanya kabar lagi. Lapo seh? Kurang kerjaan."

"Hahahaha.."

Kami tergelak bersama.

Diam, sunyi. Hanya terdengar helaan nafas panjang berkali-kali. Dan akupun juga diam karena aku sibuk menyimak layar kotak di depanku, film Bollywood Kuch Kuch Hota Hai yang diputar di televisi. Tak kusia-siakan film ini karena kalau nanti kembali ke pondok nggak bisa lihat tivi lagi. Seru kalau lagi ngerumpi sama teman-teman, saling bercerita, saling debat membedah tiap adegan. Padahal sama-sama lihat filmya.

“Lapo seh muncul Tina? Kok Anjeli nggak karo Salman Khan wae she? Umpomo nggak ada acara camp paling nggak ketemu itu sama Anjeli dan blab la bla.” Akhirnya ditutup dengan “ya sak karepe sutradarae lho.” Dan semua tergelak keras.

Dia masih diam membisu.

“Nggak eman pulsa a, Mas?”

“Sangune akeh ta?” tanyaku menembus kesunyian. Biar dia segera menyudahi teleponnya dan aku kembali ke selimut hangatku sambil nonton Kuch Kuch Hota Hai.

“Ini tadi beli paketan hemat, dipake rame-rame nggak habis-habis.” Ada nada gelisah di setiap katanya.

“Ning, dengerin aku sebentar ya? Sampean lagi lapo se kok meneng wae?”

Dia membandingkan ketika aku smsan dengannya yang tanpa jeda. Selalu meminta penjelasan tema yang dia lontarkan. Saling membagi informasi tentang bahtsul masail terbaru, terkini.

“aku dari tadi ya lihat tipi, Mas. Sampean ganggu waktuku me time. Nek smsan kan bisa dijawab sak selone, lha nek ditelepon ya nggak bisa konsen dua-duanya to?”
Dia tergelak.

“Sebentar saja kok.”

“Ning, watta’riidhu maa laa yaqtho’u biiroghbati bal yakhtamiluhaa kaqoulil khootibi lil-marati rubba rooghibin fiika.” (doleki artine dewe ya bebh).
Dia mengutip salah satu alenia bahasan di Fathul Qorib dan itu adalah bab terakhir bahasan ngaji sebelum liburan pondok.

“Hahaha, aku ketawa.”

Aku terdiam sejenak. Ada desir aneh di dada, aku segera menutupi kegugupanku dengan tawa. Aku paham maksudnya. Tapi bahasan itu terlalu dini.

“Sampean ini ngelindur ta? Jalan kita masih panjang. Habis ini aku lulus dan harus kuliah. Itu prinsip keluargaku. Meskipun perempuan, harus kuliah. Ngilmu sing duwur. Mendidik anak, santri, masyarakat butuh ilmu. Trus sampean ya jik enom. Lulus pondok salaf kan pengen kuliah luar negeri to? Kita jalani peran masing-masing. Tanpa ikatan. Nek jodoh nggak akan ke mana.

Aku menolaknya halus dengan tanpa menjatuhkan muruahnya sebagai Gus.

Bersambung..

No comments:

Post a Comment