![]() |
| ( Ilustrasi Pondok Pesantren ) |
Suatu ketika the genk Ciprut jalan-jalan menuju kantin, tiba-tiba ada suara rame di kamar mandi tengah. Tanpa ba bi bu, Ciprut mendatanginya.
“Mbak, ini siapa aja? Di kamar mandi kok rame banget. Berapa orang ini di dalam? Ayo nang keluar!” perintah Ciprut pada mbak-mbak yang mandi keruntelan di kamar mandi komplek tengah.
Duh, nek sudah kayak gini naluri calon Nyainya keluar wes.
Tiba-tiba sepi, sunyi, diam seribu bahasa. Suara gemericik airpun tak ada.
Ciprut menggedor-gedor lagi pintu kamar mandi. “Ayo, keluar!”
Tiba-tiba muncul dua santri putri dari dalam kamar mandi. Satunya masih sibuk membetulkan jilbab segiempatnya, satunya masih membenarkan sarungnya.
Aku melihat wajah Ciprut sudah kayak mau makan orang, siap menerkam.
“Tahu peraturan pondok nomor 52 kan?” Tanya Ciprut pada dua santri tadi.
“Dereng, Neng. Kami baru seminggu di sini,” jawab kedua santri sambil menunduk.
“Nu, coba sebutin apa bunyinya?” kata Ciprut sambil menoleh ke arahku.
Apa ya kata-kata pasnya? Sambil mikir.
“Mboten tekstual ya, Neng,” sambil terkekeh aku menjawabnya.
Ciprut mencolekku memberi kode agar aku tidak meringis. Wajahku seketika berubah keras, cool, biar peraturan yang aku bacakan merasuk pada kedua santri tadi.
“Intinya begini ya adik-adik, dilarang mandi bersama dalam satu kamar mandi meskipun dengan menggunakan kemben. Ngoten nggeh, Neng?” kataku sambil menahan senyum.
“Iya, itu mbak, diinget-inget ya. Nanti semua peraturan itu biar ditempel di Mading sama mbak pengurus. Ingat ya, jangan diulangi lagi. Kalau ketemu mbak pengurus, sampean berdua bisa dita’zir.”
“Injih, Neng.”
Kami pun berlalu, ketika nyampek kantin Ciprut bercerita bahwa ketika pondok Ramadhan tahun lalu di salah satu pondok di Jawa Tengah. Santrinya banyak, kamar mandinya sedikit. Jadi agar nggak ketinggalan ngaji, mereka mandi keruntelan bersama biar nggak kena ta”zir.
“Aku risih, meskipun sesama perempuan kita tetap punya batasan aurat. Dari pusar hingga lutut.
Akhirnya aku nggak mandi beberapa hari dan minta pulang,” kata Ciprut kepada kami.
“Sejak itu, aku bilang ke abah. Kalau ada dana, perbanyak kamar mandi saja biar yang mondok di sini mandinya nggak keruntelan.”
“Injih, Neng,” jawab kami kompak.
Raut muka Ciprut serius, jadi kami tak berani menggodanya.
Sesaat dia sadar, kami memanggilnya neng, dia ngakak keras.
“Hahahaha... awas kalian kalau manggil aku neng lagi.”

No comments:
Post a Comment