Ciprut - Mushola Tua

Mushola Tua (Ilustrasi)

Aku mendengar seseorang menangis, tak tahu dari arah mana. Suaranya dari dalam musalah lawas.

Meskipun bulu romaku bergidik, akhirnya kuputuskan untuk masuk mushollah lawas itu. Musollah reyot, tua, hampir rubuh peninggalan kakek buyutku. Ku edarkan pandanganku ke setiap sudut mushollah dan aku menemukan seseorang menangis tersedu-sedu.

“Mbak, kenapa menangis?” tanyaku kala itu pada seseorang yang terisak-isak di pojokkan musalah.

Dia terlihat kaget dan buru-buru mengusap air mata yang mengalir di mata dan pipinya.

“Tidak ada apa-apa, Mbak. Hanya ingin menangis,” jawabnya sembari membelakangiku.

“Lain kali, kalau nangis jangan sendirian ya? Jangan pula di sini. Di Mushollah yang baru saja.

Seharusnya Mushollah ini sudah tergembok, kok tumben sampek jam segini belum digembok?”

Aku memintanya berdiri, keluar dari mushollah tua ini dan bercerita padaku apa yang terjadi sehingga membuatnya menangis.

Dia baru seminggu di sini, santri baru. Minggu kemaren, mamanya menjenguk, membawa banyak kue, ikan dan jajanan. Untuk jatah teman sekamar sudah dikasihkan semua karena sama mamanya dibawakan banyak, khusus untuk teman sekamarnya. Selebihnya buat dia. Karena lemari santri kecil, hanya muat baju saja maka dia menaruhnya dicantolan kamar. Ketika dia hendak memakannya sore ini, jajan, kue dan ikan itu raib, habis tak tersisa.

Aku hanya tersenyum dan menanyakan dia kamar apa?

“Kamar A6, Mbak.”

“Biasanya begini, kalau dicantolkan tanpa dikasih nama sama mbak-mbak dianggap halal. Halal dalam artian boleh dimakan tanpa ijin. Karena cantolan itu untuk umum. Ya memang ditaruh lemari nggak mungkin karena akan mengotori baju dan membuat baju bau. Coba kalau disambang lagi, kuenya dikasih nama ya biar nggak habis lagi.” Ceritaku. 

Dia tersenyum. Seperti menerima penjelasanku.

Dia Nusaibah Hafidzah, yang tak sengaja bertemu, berkenalan. Aku yakin kamu bisa menjadi seperti Nusaibah binti Kaab sahabat nabi yang semangat berjuangnya tiada henti mendampingi rasulullah hingga wafat.
Akupun yakin, kau akan menjadi wanita hebat setelah belajar kehidupan di sini.

Dia menjadi teman sekaligus saudara hingga kami lulus.

No comments:

Post a Comment