Aku seorang ibu rumah tangga dengan satu baby yang baru mencoba
belajar jualan online, baru sebulan.
Beberapa buku tentang ngolshop kubeli, kelas online pun kuikuti. Dengan modal nekad aku jualan di medsos yang sudah kubuat
sejak sekolah.
Dari curhatan alay, postingan foto narsis berubah menjelma foto dagangan yang belum pernah kupegang barangnya.
Hari pertama posting, lumayan ada like dan beberapa teman medsos yang bertanya.
"Alhamdulillah," gumamku dalam hati.
Akupun semakin bersemangat.
Dari curhatan alay, postingan foto narsis berubah menjelma foto dagangan yang belum pernah kupegang barangnya.
Hari pertama posting, lumayan ada like dan beberapa teman medsos yang bertanya.
"Alhamdulillah," gumamku dalam hati.
Akupun semakin bersemangat.
Hari kedua kuposting foto dari supplier lain. Begitu terus
hingga hari ketujuh.
Respon bagus ketika aku uploud gamis satu set beserta hijabnya. Gamisnya unik, nggak pasaran. Hijabnya pun trendy. Akhirnya kuputuskan untuk order seri warna gamis satu set itu.
Bukankah kita harus tau kwalitas barang yang kita jual biar nggak dikira seperti beli kucing dalam karung? Kalau pegang langsung barangnya, oke kwalitasnya kan jadi enak jelaskan ke customer. Pikirku kala itu.
Respon bagus ketika aku uploud gamis satu set beserta hijabnya. Gamisnya unik, nggak pasaran. Hijabnya pun trendy. Akhirnya kuputuskan untuk order seri warna gamis satu set itu.
Bukankah kita harus tau kwalitas barang yang kita jual biar nggak dikira seperti beli kucing dalam karung? Kalau pegang langsung barangnya, oke kwalitasnya kan jadi enak jelaskan ke customer. Pikirku kala itu.
***
"Klunting," suara whatsapku.
Aku tengok, kubuka satu orderan dari customer yang belum kenal sama sekali.
"Kak, aku mau ya gamis anabela warna marun. Ready kan?" Tanya seorang customer.
"Iya, ada kak. All size ya ini ukurannya," jelasku kala itu.
Begitu mudah, lancar tanpa hambatan dan PHP. Bukti transfer sudah kuterima dan satu set gamis itu siap meluncur menuju empunya.
***
"Klunting," suara whatsapku.
Aku tengok, kubuka satu orderan dari customer yang belum kenal sama sekali.
"Kak, aku mau ya gamis anabela warna marun. Ready kan?" Tanya seorang customer.
"Iya, ada kak. All size ya ini ukurannya," jelasku kala itu.
Begitu mudah, lancar tanpa hambatan dan PHP. Bukti transfer sudah kuterima dan satu set gamis itu siap meluncur menuju empunya.
***
Pagi-pagi seperti biasa aku hendak update status di beranda
dan tetiba kulihat ada seseorang yang menulis di berandaku.
"Gamis bolong dijual, harganya mahal pula. Jangan jual gamis bolong dong. Nggak amanah nih olshop."
Bagai tersambar halilintar di siang bolong aku telusuri akun itu dan segera aku inbox. Hal apa yang membuat dia menulis kalimat itu di berandaku. Nama akun itu Si Cantik. Aku berasa belum mengenalnya.
"Kak, kakak ada beli gamis di saya? Kalau ada keluhan tolong inbox saja. Kenapa harus di tulis di umum sih? " inbokku kala itu.
Dia malah memakiku dari A hingga Z tanpa henti. Ketika dia berhenti mengetik akupun menjelaskan jika barang itu sudah kucek terlebih dahulu sebelum kirim.
"Tolong, kirimkan foto gamis yang bolong," tulisku di inbox.
Sebuah foto muncul dan memang benar gamis itu bolong seukuran 2 cm dibagian tengah. Orang itu ternyata yang membeli gamis satu set hijab marun kemaren lusa.
Aku diam, berpikir. Apa yang harus aku lakukan? Baru pertama kali aku mengalami hal ini.
Beberapa menit kemudian ada pesan masuk di whatsaap. Ku tengok, ternyata dari kakak yang membeli gamis marun tadi. Dag dig dug antara kubuka dan kubiarkan. Bagaimana jika makiannya kepadaku semakin berdarah-darah?
“Dik, maaf ya sebenarnya gamis ini bolong karena kegunting ketika aku buka paketan. Aku nggak berpikir seperti itu tadi. Tahu gamisnya bolong langsung emosi aja. Maaf ya.”
Lemas, lunglai, pikiran penuh, jutek. Antara lega dan ingin marah bercampur aduk.
“Aku tak akan membalasmu kak, meskipun aku sekarang agak down. Entah kulanjutkan apa tidak ngolshopku ini?”
"Gamis bolong dijual, harganya mahal pula. Jangan jual gamis bolong dong. Nggak amanah nih olshop."
Bagai tersambar halilintar di siang bolong aku telusuri akun itu dan segera aku inbox. Hal apa yang membuat dia menulis kalimat itu di berandaku. Nama akun itu Si Cantik. Aku berasa belum mengenalnya.
"Kak, kakak ada beli gamis di saya? Kalau ada keluhan tolong inbox saja. Kenapa harus di tulis di umum sih? " inbokku kala itu.
Dia malah memakiku dari A hingga Z tanpa henti. Ketika dia berhenti mengetik akupun menjelaskan jika barang itu sudah kucek terlebih dahulu sebelum kirim.
"Tolong, kirimkan foto gamis yang bolong," tulisku di inbox.
Sebuah foto muncul dan memang benar gamis itu bolong seukuran 2 cm dibagian tengah. Orang itu ternyata yang membeli gamis satu set hijab marun kemaren lusa.
Aku diam, berpikir. Apa yang harus aku lakukan? Baru pertama kali aku mengalami hal ini.
Beberapa menit kemudian ada pesan masuk di whatsaap. Ku tengok, ternyata dari kakak yang membeli gamis marun tadi. Dag dig dug antara kubuka dan kubiarkan. Bagaimana jika makiannya kepadaku semakin berdarah-darah?
“Dik, maaf ya sebenarnya gamis ini bolong karena kegunting ketika aku buka paketan. Aku nggak berpikir seperti itu tadi. Tahu gamisnya bolong langsung emosi aja. Maaf ya.”
Lemas, lunglai, pikiran penuh, jutek. Antara lega dan ingin marah bercampur aduk.
“Aku tak akan membalasmu kak, meskipun aku sekarang agak down. Entah kulanjutkan apa tidak ngolshopku ini?”
***

No comments:
Post a Comment