Catatan Perjalanan (3)


Trusmi nama suatu kampung di Cirebon yang mayoritas masyarakatnya membatik. Pemilik galery batik trusmi pun mengambil peluang dengan mempatenkan nama batik trusmi sebagai brand dia. Ya begitulah jika bisa membaca peluang dengan bagus.

Galery batik itu cukup elegan. Belakang galery terdapat museum batik serta proses pembuatan batik. Akupun tak melewatkan kesempatan itu.

Dengan merogoh kocek 40.000 aku diajari membatik di atas kain selebar 25 x 25 cm. Lumayan kalau jadi bisa dipake saputangan.


Kain itu, kain katun putih biasa. Diatas kain itu sisi kanan kirinya sudah terdapat motif ikan yang sudah dicap oleh mereka. Dan akupun jadi tau jika motif ikan itu nantinya akan disebut batik cap.

Batik yang dibentuk dari canting cap yang sudah paten. Tinggal mencelupkan ke lilin malam yang sudah dipanasi dan ditempelkan di atas kain. Mirip stempel cuma ukurannya yang lebih besar.

Di bagian tengah terdapat gambar bunga. Gambar itu yang jadi cikal bakal batik tulis yang hendak aku kerjakan.

Lilin malam yang mendidih di atas penggorengan kecil dengan kompor sumbu jaman dulu yang memakai bahan bakar solar siap kutuangkan ke kain putih itu dengan canting yang telah kupegang.

Canting khas membatik itu kucelupkan, kuangkat dan siap kutorehkan pada sketsa gambar bunga yang sudah tergambar apik.

Sret, sret, bagus, mulus. Sret, sret lilin malam itu tak mau keluar dari canting. Ternyata harus dicelup lagi. Harus selalu panas, biar tidak membeku dalam canting.

Sret, sret, satu bunga sudah tergambar dengan bagus plek sesuai sketsanya.

Bunga kedua, sret sret lilin malam itu tidak keluar dengan baik. Menetes tidak pada tempatnya. Membentuk tetesan tetesan yang keluar dari sketsa yang sudah ada. Yassalam, yoweslah tak kasih tutul-tutul sisan ben nggak ketok nek kesalahan teknis.

No comments:

Post a Comment